Tampilkan postingan dengan label SDN Lambunga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SDN Lambunga. Tampilkan semua postingan
Senin, 12 Agustus 2019
Sabtu, 18 Mei 2019
Selasa, 29 Mei 2018
Dari Gubuk Reot Hingga Balai Desa Aku Dididik (Catatan Alumni SDN Lambunga)
Di
sini saya dididik menjadi manusia. Saya mengalami 2 kepala sekolah. Pak Wilem
Wara (Sukutokan) dan Pak Rofin Kopong Tupen (Lamapaha), ayah dari Anton Doni
Dihen. Guru agama Islam saya adalah pak Ridwan Bapa Duli dari Weranggere,
Witihama.
Guru
lain yang terkenal galak tapi baik adalah Pak Bone Beda dari Adobala
(almarhum), Pak Ismail Lete dari Pepak dan Pak Usman Kopong dari Witihama, tak
lupa guru olah raga pak Burhan Belo (Lambunga) dan Pak Sintu (Lambunga). Tanpa
mereka semua, tentu saya tak bisa menulis kisah ini.
Dulu
sekolah ini disebut sekolah Islam karena muridnya 99 persen Islam. Sementara
yang Katolik sekolah di SDK di sebelahnya. Ada juga yang Katolik tapi biasanya
karena bermasalah di sebelah. Sebaliknya juga begitu.
Meski
sekolah negeri, gedung SDN Lambunga hanyalah sebuah gubuk reot, berlantai
tanah, dinding bambu dan beratap daun kelapa. Celakanya lagi, ka'u alias daun
kelapa ini menjadi tanggungan kami murid-muridnya. Nasib-nasib... lokasi sekolah
seperti yang ada sekarang ini, tapi agak ke atas lagi dan posisinya memanjang
timur ke barat. Karena gubuk reot ini mau ambruk, maka sejak kelas IV, kami
pindah ke Balai Desa. Di sini ternyata masih kurang kelas sehingga dibangunlah
ruang kelas darurat untuk kelas 5 dan 6, tentu berdinding bambu, lantai tanah dan
beratap ka'u alias daun kelapa.
Ketika
kelas 6 SD, kami tinggal bertujuh: dari Pepak ada saya dan Nuho, dari Lambunga
ada Lebu, Tamrin (almarhum), Kelong dan dari Wuhung Lanang Useng dan Bapa Nur.
Tetapi menjelang ujian akhir, Nuho malah keluar. Tinggalah kami berenam sampai
tamat sekolah di Balai Desa tadi.
Langganan:
Postingan (Atom)


